Dynamic Glitter Text Generator at TextSpace.net

Selasa, 11 Maret 2014

Tugas I : Perkembangan dan Klasifikasi Akuntansi Internasional




Perkembangan dan Klasifikasi Akuntansi Internasional


Faktor yang mempengaruhi Perkembangan Akuntansi Internasional Akuntansi Internasional adalah akuntansi untuk transaksi internasional, perbandingan prinsip akuntansi antar negara yang berbeda dan harmonisasi berbagai standar akuntansi dalam bidang kewenangan pajak, auditing dan bidang akuntansi lainnya. Akuntansi harus berkembang agar mampu memberikan informasi yang diperlukan dalam pengambilan keputusan di perusahaan pada setiap perubahan lingkungan bisnis. Esensinya adalah bahwa klasifikasi akuntansi dan system pelaporan yang dipengaruhi seperti oleh masalah ekonomi dan politik. Perkembangan di bawah ini adalah faktor yang memiliki pengaruh signifikan dalam perkembangan bunia akuntansi, yaitu :

1.     Sumber pendanaan Amerika dan Inggris yang memiliki kekuatan perdagangan yang cukup kuat memiliki focus atas seberapa baik manajemen menjalankan perusahaan (profitabilitas), dan dirancang untuk membantu investor menganalisis arus kas masa depan dan resiko terkait

2.    Sistem hokum Di duni abarat memiliki dua orientasi dasar, hokum kode (sipil) dan hokum (kasus)

3.    Perpajakan Peraturan pajak secara efektif dapat menentukan standar akuntansi karena perusahaan harus mencatat pendapatan dan beban dalam akun dikalim untuk keperluan perpajakan

4.    Ikatan politik dan ekonomi Beberapa Negara berkembang menggunakan sistem akuntansi yang dianut Negara maju, namun hal tersebut ada yang Karen paksaan namun ada jug yang karena pilihan sendiri

5.    Inflasi Inflasi menyebabkan distorsi terhadap akuntansi biaya historis dan mempengaruhi kecenderungan (tendensi) suatu Negara untuk menerapkan perubahan harga terhadap akun-akun perusahaan

6.    Tingkat perkembangan ekonomi Faktor ini mempengaruhi jenis transaksi usaha yang dilaksanakan dalam suatu perekonomian dan menentukan manakah yang paling utama

7.    Tingkat pendidikan Standar dan praktik akuntansi yang sangat rumit mumbutuhkan tenaga ahli dalam penerapannya, kalau tidak maka kemungkinan besar bisa disalahgunakan

8.    Budaya Budaya sendiri berpengaruh terhadap perilaku masing-masing individu dalam mendasari pengaturan kelembagaan di suatu Negara yang nantinya akan secara tidak alangsung akan berpengaruh terhadap akuntansinya.




Ø Beberapa karakteristik era ekonomi global yang ada dalam akuntansi internasional antara lain:

1.     Bisnis internasional

2.    Hilangnya batasan-batasan antar Negara era ekonomi global sering sulit untuk mengindentifikasi Negara asal suatu produk atau perusahaan, hal ini terjadi pada perusahaan multinasional

3.    Ketergantungan pada perdagangan internasional




Ø  Menurut Choi dan Muller (1998; 1) Bahwa ada tiga kekuatan utama yang mendorong bidang akuntansi internasional kedalam dimensi internasional yang terus tumbuh, yaitu :

1.     faktor lingkungan,

2.    Internasionalisasi dari disiplin akuntansi, dan

3.    Internasionalisasi dari profesi akuntansi.




Ø  Tantangan bagi profesi akuntan dalam pengembangan akuntansi :

1.     Skill dan kompetensi yang dimiliki

2.    Memahami Cross Functional Linkages, akuntan tidak hanya cukup mahir dalam teknik, prosedur dan standar akuntansi tetapi juga harus biasa memandang bisnis sebagai suatu bentuk terintegrasi. Seperti : kualitas produk, fleksibilitas produksi dan kemampuan untuk memproduksi dan mengekspor dengan cepat agar bisa memenangkan persaingan global

3.    Analisis keuangan dan perbandingannya Perkembangan Akuntansi Internasional sudah seharusnya diiringi oleh kemampuan individu yang bergerak dalam bidang akuntansi untuk ikut andil memajukan akuntansi. Akuntansi Internasional merupakan penghubung antarnegara. Delapan faktor yang  mempengaruhi perkembangan akuntansi internasional harus dipahami dengan baik agar tercipta harmonisasi antarnegara yang bertransaksi.




Ø  Ada 8 (delapan) faktor yang mempengaruhi perkembangan akuntansi internasional, yaitu :

1.  Sumber pendanaan

Di Negara-negara dengan pasar ekuitas yang kuat, akuntansi memiliki focus atas seberapa baik manajemen menjalankan perusahaan (profitabilitas), dan dirancang untuk membantu investor menganalisis arus kas masa depan dan resiko terkait. Sebaliknya, dalam system berbasis kredit di mana bank merupakan sumber utama pendanaan, akuntansi memiliki focus atas perlindungan kreditor melalui pengukuran akuntansi yang konservatif.

2.  Sistem Hukum

Dunia barat memiliki dua orientasi dasar: hukum kode (sipil) dan hukum umum (kasus). Dalam Negara-negara hukum kode, hukum merupakan satu kelompok lengkap yang mencakup ketentuan dan prosedur sehingga aturan akuntansi digabungkan dalam hukum nasional dan cenderung sangat lengkap. Sebaliknya, hukum umum berkembang atas dasar kasus per kasus tanpa adanya usaha untuk mencakup seluruh kasus dalam kode yang lengkap.

3.  Perpajakan

Di kebanyakan Negara, peraturan pajak secara efektif menentukan standar karena perusahaan harus mencatat pendapatan dan beban dalam akun mereka untuk mengklaimnya untuk keperluan pajak. Ketka akuntansi keuangan dan pajak terpisah, kadang-kadang aturan pajak mengharuskan penerapan prinsip akuntansi tertentu.

4.  Ikatan Politik dan Ekonomi

5.  Inflasi

Inflasi menyebabkan distorsi terhadap akuntansi biaya histories dan mempengaruhi kecenderungan (tendensi) suatu Negara untuk menerapkan perubahan terhadap akun-akun perusahaan.

6.  Tingkat Perkembangan Ekonomi

Faktor ini mempengaruhi jenis transaksi usaha yang dilaksanakan dalam suatu perekonomian dan menentukan manakah yang paling utama.

7.  Tingkat Pendidikan

Standard praktik akuntansi yang sangat rumit akan menjadi tidak berguna jika disalahartikan dan disalahgunakan. Pengungkapan mengenai resiko efek derivatif tidak akan informatif kecuali jika dibaca oleh pihak yang berkompeten.

8.  Budaya

Empat dimensi budaya nasional, menurut Hofstede: individualisme, jarak kekuasaan, penghindaran ketidakpastian, maskulinitas.




Ø  Gray mengidentifikasi 4 nilai akuntansi:

1.  Profesionalisme vs Statutory Control

Kemampuan untuk melakukan judgement profesionalis secara individu serta berusaha mempertahankan regulasi professional yang mandiri dilawankan dengan kepatuhan terhadap persyaratan legal dan statutory control.

2.  Uniformity vs Flexibility

Kecenderungan untuk melakukan praktek akuntansi yang seragam dan konsisten antarperusahaan dibandingkan dengan tingkat fleksibilitas untuk menerapkan praktek disesuaikan dengan kondisi suatu perusahaan.

3.  Conservatism vs Optimisme

Kecenderungan orang untuk berhati-hati terhadap suatu tingkat resiko saat ini maupun ketidakpastian di masa depan dibandingkan dengan perilaku yang lebih optimis dan keberanian untuk mengambil resiko.

4.  Secrecery vs Transparancy

Kecenderungan untuk melakukan pembatasan pengungkapan informasi mengenai bisnis hanya pada pihak-pihak yang terlibat intens dengan manajemen dan keuangan dibandingkan dengan yang lebih transparan dan terbuka.




Ø  KLASIFIKASI AKUNTANSI INTERNASIONAL

Klasifikasi merupakan dasar untuk memahami dan menganalisis mengapa dan bagaimana sistem akuntansi nasional berbeda-beda. Kita juga dapat menganalisis apakah sistem-sistem tersebut cenderung menyatu atau berbeda. Tujuan klasifikasi adalah untuk mengelompokkan sistem akuntansi keuangan menurut karakteristik khususnya. Klasifikasi mengungkapkan struktur dasar di mana anggota-anggota kelompok memiliki kesamaan dan apa yang membedakan kelompok-kelompok yang beraneka ragam satu sama lain. Dengan mengenali kesamaan dan perbedaan, pemahaman kita mengenai sistem akuntansi akan lebih baik.

Klasifikasi akuntansi internasional dapat dilakukan dalam dua cara: Dengan pertimbangan dan secara empiris. Klasifikasi dengan pertimbangan bergantung pada pengetahuan, intuisi dan pengalaman. Klasifikasi secara empiris menggunakan metode statistic untuk mengumpulkan data prinsip dan praktek akuntansi seluruh dunia.




Ø  Ada empat Pendekatan Klasifikasi

Klasifikasi awal yang dilakukan adalah yang diusulkan oleh Mueller pertengahan tahun 1960-an. Ia mengidentifikasikan empat pendekatan terhadap perkembangan akuntansi di Negara-negara Barat dengan sistem ekonomi berorientasi pasar.

(1)  Berdasarkan pendekatan makroekonomi, praktik akuntansi didapatkan dari dan dirancang untuk meningkatkan tujuan  makroekonomi nasional. Tujuan perusahaan umumnya mengikuti dan bukan memimpin kebijakan nasional, karena perusahaan bisnis mengordinasikan kegiatan mereka dengan kebijakan nasional. Oleh karenanya, sebagai contoh, suatu kebijakan nasional berupa lapangan kerja yang stabil dengan menghindari perubahan besar dalam siklus bisnis akan menghasilkan praktik akuntansi yang meratakan laba. Atau, untuk mendorong perkembangan industry tertentu, suatu Negara dapat mengizinkan penghapusan pengeluaran modal secara cepat pada beberapa industry tersebut. Akuntansi di Swedia berkembang dari pendekatan makroekonomi.

(2) berdasarkan pendekatan mikroekonomi, akuntansi berkembang dari prinsip-prinsip mikroekonomi. Fokusnya terletak pada perusahaan secara individu yang memiliki tujuan untuk bertahan hidup. Untuk mencapai tujuan ini, perusahaan harus mempertahankan modal fisik yang dimiliki. Juga sama pentingnya bahwa perusahaan memisahkan secara jelas modal dari laba untuk mengevaluasi dan mengendalikan aktivitas usaha. Pengukuran akuntansi yang didasarkan pada biaya penggantian sangat didukung karena paling sesuai dengan pendekatan ini. Akuntansi di Belanda berkembang dari mikroekonomi.

(3) berdasarkan pendekatan disiplin independen, akuntansi berasal dari praktik bisnis dan berkembang secara ad hoc, dengan dasar perlahan-lahan dari pertimbangan, coba-coba dan kesalahan. Akuntansi dianggap sebagai fungsi jasa yang konsep dan prinsipnya diambil dari proses bisnis yang dijalankan, dan bukan dari cabang keilmuan seperti ekonomi. Bisnis menghadapi kerumitan dunia nyata dan ketidakpastian yang senantiasa terjadi melalui pengalaman, praktik, dan intuisi. Akuntansi berkembang dengan cara yang sama. Sebagai contoh, laba secara sederhana merupakan hal yang paling bermanfaat dalam praktik dan pengungkapan secara pragmatis dalam menjawab kebutuhan para pengguna. Akuntansi berkembang secara independen di Inggris dan Amerika Serikat.

(4) berdasarkan pendekatan yang seragam, akuntansi distandardisasi dan digunakan sebagai alat untuk kendali administrative oleh pemerintah pusat. Keseragaman dalam pengukuran, pengungkapan dan penyajian akan memudahkan informasi akuntansi dalam mengendalikan seluruh jenis bisnis. Secara umum, pendekatan seragam digunakan di Negara-negara dengan ketelibatan pemerintah yang besar dalam perncanaan ekonomi di mana akuntansi digunakan antara lain untuk mengukur kinerja, mengalokasikan sumber daya, mengumpulkan pajak dan mengendalikan harga. Prancis, dengan bagan akuntansi nasional yang seragam merupakan pendukung utama pendekatan akuntansi secara seragam.




Ø  Akuntansi juga dapat diklasifikasikan dengan system hokum suatu Negara.

(1)  Akuntansi dalam negara-negara hukum umum memiliki karakter berorientasi terhadap penyajian wajar, transparansi, dan pengungkapan penuh dan pemisahan antara akuntansi keuangan dan pajak. Pasar saham mendominasi sumber-sumber keuangan dan pelaporan keuangan ditunjukkan untuk kebutuhan infrmasi investor luar. Akuntansi hukum umum disebut sebagai Anglo Saxon.

(2) Akuntansi dalam Negara-negara hukum kode memiliki karakteristik beorientasi legalistic, tidak membiarkan pengungkapan dalam jumlah kurang, dan kesesuaian antara ankuntansi keuangan dan pajak. Bank atau pemerintah mendominasi ksumber keuangan dan pelaporan keuangan dan pelaporan keuangan ditujukan untuk perlindungan kreditor. Akuntansi ini disebut juga continental. Pemberian karakter akuntansi memparalelkan hal yang disebut sebagai model pemegang saham dan pihak berkepentingan tata kelila perusahaan dalan Negara hukum umum dan hukum kode.
 



Ø  Klasifikasi yang didasarkan padada penyajian wajar versus kepatuhan hukum menimbulkan pengaruh yang besar terhadap banyak permasalahan akuntansi, seperti :

(1)  depresiasi, di mana beban ditentukan berdasarkan penurunan kegunaan suatu aktiva selama masa manfaat ekonomi (penyajian wajar) atau jumlah yang diperbolehkan untuk tujuan pajak (kepatuhan hukum),

(2) sewa guna usaha yang memiliki substansi pembelian aktiva tetap diperlakukan seperti itu (penyajian wajar) atau diperlakukan seperti sewa guna usaha operasi yang biasa (kepatuhan hukum),

(3) pension dengan biaya yang diakrual pada saat dihasilkan oleh karyawan (penyajian wajar) atau dibebankan menurut dasar dibayar pada saat berhenti kerja (kepatuhan hukum).


Sumber:


Minggu, 12 Januari 2014

Tugas M2 ( Etika Profesi Akuntansi # )



Nama : Wiwik Dyah Kurniawati
NPM   : 28210569
Kelas : 4EB20
Tugas : M2


Pelanggaran Kode Etik Disekitar Kita





Rabu,08 Januari 2014        :

          Pagi ini diawali dengan hujan yang cukup deras di kota Bekasi. Saya mengawali pagi ini dengan bertugas sebagai asisten laboratorium di Universitas Gunadarma dimulai dari shift 1,5, dan 6. Saya mendapat jadwal jaga pada hari rabu, dan minggu. Saya berangkat ke kampus dengan mengendarai sepeda motor dan memakai jas hujan, selama diperjalanan saya melihat sendiri banyak sekali masyarakat kota Bekasi yang melakukan pelanggaran kode etik seperti menyebrang tanpa melihat situasi jalanan, banyak pengendara yang menyalip dan mengebut di jalan raya tanpa mereka perhatikan banyaknya jumlah kendaraan, dan ada salah satu pengendara tidak menggunakan lampu sen pada saat ia ingin belok, selain itu masih banyak pengendara sepeda motor maupun mobil yang menerobos lampu merah tanpa memperhatikan banyaknya kendaraan yang berlalu-lalang. Semua pelanggaran kode etik tersebut mencerminkan masyarakat yang tidak mematuhi peraturan dan semaunya sendiri melakukan perbuatan tanpa memikirkan resiko dan bahaya yang akan timbul terhadap dirinya ataupun orang lain. Untuk mengatasi masalah dan pelanggaran tersebut sebelumnya harus didasarkan pada kesadaran diri masing-masing terhadap dampak yang akan timbul.





Kamis, 09 Januari 2014     :

          Hari ini saya mengawali kegiatan untuk memperpanjang STNK dan cek fisik sepeda motor untuk mengganti plat nomor baru di SAMSAT kota Bekasi, selama proses perpanjangan STNK dan cek fisik di SAMSAT, saya melihat banyak sekali masyarakat yang melakukan pelanggaran kode etik, beberapa contoh yang saya lihat yaitu, banyak masyarakat yang parkir kendaraannya sembarangan dan menaruh kendaraannya tidak sesuai ditempat parkir yang telah disediakan oleh SAMSAT, banyak masyarakat yang tidak mau mengantri dan menyelak yang bukan gilirannya untuk mengambil nomer pembayaran STNK, dan sebagian orang masih ada yang merokok di dalam ruangan penyerahan berkas STNK padahal sudah tertulis larangan yaitu dilarang merokok, selain itu ada beberapa orang yang marah-marah dan berbicara kasar kepada petugas loket karena tidak sabaran untuk menunggu dan mengantri, serta banyak sekali orang yang buang sampah sembarangan tidak pada tempat yang telah disediakan. Dari masalah dan pelanggaran diatas yang saya lihat bahwa masih banyak sekali masyarakat yang melakukan pelanggran kode etik dengan semaunya sendiri melakukan sesuatu. Hal tersebut mencerminkan masyarakat yang tidak memiliki kode etik dan sangat tdak pantas untuk ditiru dan dicontoh oleh generasi selanjutnya.





Jum’at, 10 Januari 2014     :

          Pada hari ini saya mengawali rutinitas dan kegiatan saya sebagai mahasiswa yaitu kuliah di kampus kalimas Universitas Gunadarma, saya mendapat jadwal kuliah yaitu hari senin, selasa dan jum’at. Pada hari jum’at ini jadwal kuliah saya dari jam 09.30-15.30 WIB. Selama perkuliahan dan dikampus saya melihat banyak mahasiswa yang melakukan pelanggaran kode etik contohnya seperti, mahasiswa yang masih buang sampah sembarang, mahasiswa yang bebicara kotor dan tidak sopan, mahasiswa yang tidak mengerjakan tugasnya dan bolos kuliah, mahasiswa yang merokok didalam kelas pada saat dosen tidak masuk, mahasiswa yang mencoret-coret tembok dan kursi di kelas, mahasiswa yang dating terlambat pada saat dosen sudah menyampaikan materi, serta ditoilet kampus perempuan banyak tisu yang dibuang sembarangan dan dimushola kampus banyak mukenah yang habis pakai tidak dilipat dan digantung kembali sehingga musholah kampus menjadi berantakan dan mukenah menjadi bau lembab. Pelanggaran-pelanggaran kode etik diatas yang telah dilakukan oleh mahasiswa sangat mengganggu kenyamanan mahasiswa lainnya dan dan mencemari lingkungan kampus. Hal tersebut harus perlu diperbaikiri dari kesadaran diri sendiri agar pelanggaran kode etik dapat berkurang dan tidak merugikan orang lain disekitar kita.





Sabtu, 11 Januari 2014      :

          Hari weekend ini adalah hari yang paling saya tunggu-tunggu untuk merefreshingkan pikiran saya. Sabtu ini saya berencana untuk pergi ke Mall Metropolitan di kota Bekasi, saya pergi ke Mall untuk menonton bioskop bersama teman-teman saya. Selama perjalanan ke Mall saya melihat ada beberapa pelanggaran kode etik yang dilakukan masyarakat yaitu,  ada pengendara sepeda motor yang tidak memakai helem dan tidak memakai kaca spion serta mengendarai sepeda motor dengan bonceng tiga orang, selain itu ada pengendara yang main handphone baik itu smsan maupun teleponan dijalan sambil mengendarai kendaraannya, lalu pengendara mobil ada yang tidak memakai sabuk pengaman keselamatan. Selain di perjalanan di dalam Mall dan bioskop pun saya juga menemukan dan melihat orang-orang melakukan pelanggaran kode etik seperti, ada orang yang ketahuan dan tertangkap telah mencuri baju pada salah satu toko baju di Mall, ada orang yang menyebrang jalan tidak melewati jembatan penyebrangan di dekat Mall Metropolitan yang telah disediakan hal tersebut dapat menyebabkan kemacetan jalan, lalu ada yang buang sampah bekas minuman dan sebagainya sembarangan, di dalam bioskop saya melihat ada orang berpacaran yang melakukan tindakan asusila didalam bioskop hal tersebut membuat penonton yang lainnya risih dan tidak nyaman, dan ada juga yang merekam film yang sedang diputar dengan menggunakan video di handphone tanpa sepengetahuan petugas bioskop hal tersebut sangat dilarang oleh hukum, serta ada beberapa penonton bioskop yang membawa makanan atau snack dari luar kedalam bioskop. Dari kenyataan pelanggaran kode etik yang saya lihat pada hari ini ternyata sangat disayangkan masih banyak sekali masyarakat yang didalam dirinya tidak tertanam nilai etika oleh karena itu mereka dapat merugikan dan membahayakan orang lain disekitarnya. Untuk itu perlu adanya kesadaran dalam diri sendiri tentang pentingnya nilai-nilai etika bagi masyarakat luas.


Minggu, 24 November 2013

Mendirikan Usaha Catering Rumahan



Nama : Wiwik Dyah Kurniawati
NPM : 28210569
Kelas : 4 EB 20
Tulisan Ke-5


Mendirikan Usaha Catering Rumahan

Kesibukan dan ingin praktis. Itulah yang mendorong masyarakat modern menyerahkan urusan dapur kepada orang lain (catering). Bukan hanya saat acara pesta, bahkan untuk menu sehari-hari. Usaha katering merupakan usaha yang popular di bidang boga. Di setiap kesempatan dan momen kita sering menjumpai aneka makanan enak yang disajikan dengan menarik oleh pengusaha katering. Usaha Catering Box merupakan usaha yang cocok bagi saya yang suka memasak dan ingin mempunyai usaha sendiri. Ada macam-macam tingkatan dalam usaha ini. Usaha katering tingat rumahan adalah usaha jasa boga yang melayani pesanan sampai dengan seratus orang. Sebagai pemula yang mengerjakan usaha ini sendiri saya mulai melayani pesanan secara bertahap. Bisnis katering merupakan salah satu bisnis rumahan yang paling menguntungkan dengan potensi ekspansi dan pertumbuhan yang tinggi. Ini sangat baik secara finansial dan menyenangkan. Setiap melayani event apakah itu pesta ulang tahun, makan malam, atau resepsi penikahan memberikan pengalaman baru dan tantangan dengan sekelompok orang yang baru. Bisnis katering membutuhkan stamina ekstra, kemampuan bekerja di bawah tekanan, dan keterampilan interpersonal yang sangat baik. Keberhasilan dalam bisnis ini akan sangat tergantung pada reputasi. Guna membangun reputasi yang baik dalam bisnis, harus bersedia bekerja keras dan kemampuan bekerja di bawah tekanan. Perlu disadari bahwa usaha makanan tak akan pernah mati, ini yang melatar belakangi sikap para pelaku bisnis catering sebelum mereka memutuskan untuk memilih bisnis ini.

Apabila kita ingin menjadi pengusaha atau ingin membuka usaha baik jasa, dagang, maupun manufaktur sangat perlu memperhatikan konsep dalam pelaksanaan marketing atau biasa disebut marketing plan sebagai langkah awal untuk mecapai kesuksessan dan keberhasilan didalam usaha yang sedang kita jalani. Tanpa memperhatikan marketing plan maka usaha yang kita jalani akan tidak berjalan sesuai dengan yang kita harapkan yaitu pastinya memperoleh keuntungan. 5 konsep dalam pelaksanaan marketing/marketing plan yaitu terdiri dari konsep produksi, konsep produk, konsep penjualan, konsep marketing, dan konsep sosial, yang masing-masing konsep tersebut mempunyai peranan yang sangat penting untuk menjalankan usaha. Dalam usaha catering rumahan yang ini yang paling utama harus diperhatikan adalah kepuasan konsumen, pelayanan kepada konsumen, menjaga citarasa masakan, menggunakan bahan-bahan yang berkualitas tidak mengandung pewarna berbahaya, dan melakukan promosi dengan meggunakan brosur, dari mulu ke mulut, dan kartu nama usaha catering rumahan kami. 

Sumber :
http://www.ciputraentrepreneurship.com/bisnis-mikro/tips-dan-cara-memulai-usaha-katering-dari-rumah
Opini :